VS
“Bola ini bapak sita!” Kata Pak Abdul
“Mengapa pak?!” Seru Zhalas sengit.
“Karena nilai matematika kamu jelek!” Jawab pak Abdul.
“Bapak tidak adil! Apa hubungannya main bola dengan
nilai matematika jelek?!” Pinta Zhalas.
“Mungkin memang tidak adil. Begini saja, Bapak Punya
syarat. Kalau kamu bisa mencetak satu gol, bolamu boleh dibawa pulang.
Sebaliknya, kalau tidak bisa, bola ini bapak sita, dan kamu harus ikut latihan
tambahan matematika sepulang sekolah” Kata pak Abdul.
“Boleh,pak!” sahut Zhalas tak mau kalah.
“Kesempatannya hanya tiga kali” Kata pak Abdul. Ia
memilih salah satu gawang dan bersiap. Zhalas mengambil ancang-ancang , dan
duesssss!!! Di tendang bola sekuat-kuatnya. Ayo,masuk….namun…Hopp!! dengan
tangkas pak abdul menangkap bola.
“satu gagal!” seru pak abdul penuh kemenangan .
“Huh,menyebalkan! Aku tak boleh gagal lagi”. Gerutu
Zhalas
Duessss! Bola melesat kuat dan duengggg… menabrak
pinggir gawang hingga terpental jauh.
“dua kali gagal!” Seru pak abdul.
Dengan marah ditendang bola ketiga, namun lagi lagi
gagal. Zhalas kalah…
“tepati janjimu.
Seorang anak laki laki tidak boleh ingkar janji!” kata pak Abdul tersenyum puas.
Zhalas membanting kakinya dengan kesal. Apa boleh
buat,Terpaksa Zhalas harus mengikuti pelajaran tambahan matematika yang
dibenci. Sejak dahulu nilai matematikanya selalu pas-pasan .
“sudah selesai,nak?” Tanya pak Abdul sambil melihat buku
latihan zhalas. Ia menggeleng – gelengkan kepala karena jawaban zhalas masih
salah.
“Kamu masih tidak mengerti prinsip rumus keliling, ya?”
Tanya pak abdul . Ia kemudian bergegas mengambil meteran. “sekarang coba ukur
keliling kotak pensil ini” Kata pak abdul sambil memberika kotak pensil kayu segi
empat. Zhalas mengambil penggaris dan
mengukurnya. Panjangnya 25cm dan lebarnya 10cm. Totalnya adalah 70cm.
“Bagus. Sekarang coba gunakan rumus keliling segi empat”
Kata Pak Abdul. Lalu Zhalas menambahkan panjang dan lebar,lalu dikalikan dua.
Ternyata hasilnya sama dengan jawaban Zhalas yang tadi.
“Nah, kalo dicoba bisa kan? Kamu sebenarnya pintar,
Zhalas. Berusaha lagi, ya” Kata Pak Abdul tersenyum puas, sambil menepuk –
nepuk pundak Zhalas. Zhalas tertegun. Selama ini belum ada pernah ada orang
yang mengatakan zhalas pintar, apalagi untuk matematika…
“Hei, melamun! Apa yang kamu lihat diluar jendela” Tegur
Pak Abdul.
Zhalas memalingkan wajahnya dan menunduk.
“Coba lihat, Hasil latihanmu” Kata Pak Abdul sambil
mengambil buku latihan.
“Ada empat nomor yang salah. Kemajuanmu bagus. Kalau
kamu berhasil membetulkan semua nomor yang salah, bapak akan mengajarkanmu
latihan khusus sepak bola. Gini – gini , Bapak striker yang hebat, semasa
sekolah dulu” Kata pak Abdul, seolah bisa membaca pikiran Zhalas.
“Janji ya, pak!” Seru zhalas senang. Zhalas jadi
bersemangat!
“Sudah selesai,pak!” Kata Zhalas dengan yakin. Pak Abdul
memeriksa hasil kerja matematika Zhalas.
“Hebat,betul semua. Kalau begitu sore ini kita latihan
sepak bola” Katanya puas.
Sejak saat itu , zhalas jadi semakin bersemangat
mengerjakan tugas –tugas matematika,
karena sesudahnya ia pasti diajak bermain bola oleh pak Abdul . Matematika kini
bagi zhalas seperti sepak bola.
“Nilai ulangan minggu lalu akan bapak bagikan. Kali ini
hanya satu orang yang men dapat nilai sepuluh. Oeang itu adalah…..Zhalas” kata
pak Abdul. Semua anak langsung menoleh kea rah Zhalas. Pak Abdul sambil
bertepuk tangan.
Suatu hari pak Abdul memanggil Zhalas. “ada lomba
matematika . Kamu salah satu wakilnya” Kata pak Abdul.
“Hah?Tapi ,pak….”Kata Zhalas ragu – ragu.
“Kamu pasti bisa. Bapak yakin” Kata pak Abdul
menyemangati.
Akhirnya Zhalas pun setuju. Babak – babak kualifikasi
dilalui. Tahu-tahu Zhalas sudah sampai final bersama satu teman sebangkunya .
Babak final pun berhasil dilewati dengan baik. Saatnya pengumuman dibacakan,
“Juara dua diraih oleh Winda dari kelas 11A, dan terakhir juara
pertama oleh Zhalas dari kelas 11B” kata perwakilan juri.
“Aku menang?Masa,sih?Tapi….Benar…Aku menang!”
Disekolah semua teman dan guru –guru menyalami Zhalas
termasuk pak Abdul.
“Oh,ya. pulang sekolah, kamu mampir ke meja saya” kata
pak Abdul.
Lalu Zhalas datang menemuinya.
“Ah, kamu sudah datang nak” sapanya tersenyum.
“ini, bola ini sudah waktunya dikembalikan. Rasanya kamu
sudah tidak perlu lagi ikut les tambahan matematika. Satu hal lagi, sekolah
kita akan ikut lomba sepak bola mini sekota depok. Saya akan menjadi pelatih
tim yang bertanding. Kamu ikut,ya?” pinta pak Abdul.
“Yang benar,pak?” Seru Zhalas tak percaya
“iya benar. Setelah ini mungkin sekolah akan
mempertimbangkan peresmian klub sepak bola di sekolah kita.” Kata pak Abdul.
WOW! Bukan main! Kemarin
jadi pemenang lomba matematika, sekarang lomba sepak bola!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar